Sepenggal Kisah Karno, Seorang Petani Sawi Singkawang
Teks/Foto Frino Bariarcianur

Dulu kerjanya sebagai penambang emas tapi kini hidupnya dari sawi.
Laki-laki itu namanya Karno. Umurnya 27 tahun. Waktu datang ke Kalimantan Barat tahun 1981 bersama rombongan transmigrasi asal Pulau Jawa ia masih kecil. Ia hanya ikut orang tuanya. Niat mereka ingin hidup layak di tanah yang baru. Orang-orang Jawa disebar ke seluruh kalimantan Barat, diantaranya di daerah Sintang, Sekadau, Monterado, Singkawang dan beberapa daerah lainnya. Program transmigrasi memang menjadi salah satu andalan pemerintah saat itu. Pemerintah menjanjikan kehidupan yang layak kepada rakyatnya. Orang Jawa-lah yang menjadi “kelinci percobaan” dari program tersebut. Selain itu, pemerintah juga menginginkan penyebaran penduduk lebih merata agar tak menumpuk di tanah Jawa. Gelombang besar transmigrasi pun terjadi.
Mereka bekerja membuka lahan hutan. Berkebun. Dulu yang paling terkenal perkebunan karet. Kini semuanya hancur berantakan. Daerah Monterado, Kabupaten Bengkayang saksi hidupnya. Bahkan beberapa kepala keluarga setelah 20 tahun bekerja membuka lahan pertanian sampai sekarang belum memiliki sertifikat tanah yang dijanjikan pemerintah. Mereka orang-orang berbahasa Sunda dalam logat melayu-dayak. Meski begitu, mereka tetap menjalaninya dengan tabah. Banyak yang sukses dari program ini tapi jangan lupa cerita transmigrasi tak selamanya indah.
Begitu juga yang terjadi di kota Singkawang. Waktu saya berangkat ke Pangmilang tahun 2006, air bersih dan listrik belum ada. Bahkan ada yang bekerja di malam hari saat terang bulan purnama karena bila siang cuacanya sangat panas. Padahal jarak Pangmilang tak jauh dari pusat kota Singkawang tapi perjuangan hidup mereka seperti sudah di rimba belantara. Hanya sekira 17 kilo meter saja. Kisah-kisah transmigrasi seperti dua sisi yang menyatu, ada suka dan duka baik itu di Monterado, Sekadau, Sintang dan Singkawang. Balik lagi kepada Karno. Keluarga karno tak menyangka bahwa Sekadau tak seperti yang dibayangkan. Seperti kata pepatah jauh panggang dari api. Orang-orang di sana kebanyakan mencari uang dengan menambang emas. Karno tumbuh dalam kondisi tanah dan situasi sosial yang keras. Dan untuk membantu orang tua menyambung hidup keluarga, Karno tak punya pilihan, menjadi penambang emas liar.
Saat itu ia masih muda belia yang seharusnya menghabiskan waktu di sekolah. “Mau kerja apa lagi, selain dompeng,” kata Karno. Pekerjaan ini memang menjanjikan banyak orang meskipun resikonya sangat besar. Pencemaran dan kerusakan lingkungan hal yang tidak bisa dielakkan. Sementara pemerintah daerah di Kalimantan Barat tak tegas mengatur pekerjaan ini. Sesekali melarang tapi lebih banyak mengiyakan. Pasalnya bila dikaitkan dengan kelangsungan hidup seseorang atau masalah perut maka habislah cerita. Ternyata tidak bagi Karno. Rupanya pekerjaan menambang emas tak menjanjikan apa-apa baginya. Ia ingin berubah. Tak mungkin ia menghidupi keluarga dari hasil menambang emas selamanya.
Tahun 2003 ia hijrah ke Singkawang. Untuk ke sekian kalinya mengadu nasib. Tapi kali ini tidak sebagai penambang emas. Bersama Nasibeh, isterinya yang setia, ia menyewa sepetak tanah. Mereka berdua bercocok tanam sawi. Ada sawi taiwan, sawi keriting, sawi putih dan sawi minyak. Ia pun mendirikan pondok kecil untuk keluarganya. “Tanam sawi ndak terlalu lama, hanya 20 hari aja, bahkan bisa kurang, ” kata Karno tersenyum. Artinya uang bisa cepat datang. “Selain sawi tanam apa lagi?” tanya saya. “Hanya Sawi. Kalau tanam kacang dan timun lebih lama,” jawab Karno. Lagi-lagi ia tersenyum. Laki-laki ini sejak saya datang, senyumnya tak pernah lepas menghias wajah. Dan jari-jarinya cekatan memetik daun sawi satu demi satu.
Menurut Karno sawi butuh perawatan intensif karena termasuk kategori tumbuhan yang rentan penyakit. Saat kemarau seperti sekarang saja serangan ulat bertubi-tubi sehingga ia harus menyemprotkan racun. “Kalau tidak disemprot binatang-binatang itu merusak daun sawi,” kata Karno. Di depan pondok kecil Karno ada sekira 28 galang sawi. Tapi tidak semuanya bisa dipanen. Hanya 3 galang saja yang bisa dipanen, Minggu, (23/9} sore itu. Sisanya ada yang masih pembibitan dan ada juga yang menunggu beberapa hari lagi untuk dipetik. Setelah keranjangnya penuh ia melanjutkan pekerjaan lagi, kali ini menyiram.
Sementara Nasibeh (25) dan Noviani (7) anak perempuannya ikut membantu. Tiga anaknya yang lain tidak kelihatan di kebun. “Mana lebih enak hidup di Sekadau apa di Singkawang?” “Di sini, Mas. Hidup lebih beruntung. Tanah subur,” jawab Karno Tanah di ujung Sekip Baru, Kelurahan Roban, Kecamatan Singkawang Tengah, menurut Karno termasuk subur. Kacang, timun, sawi dan beragam tanaman yang bisa membantu perekonomian rakyat tumbuh di tanah Sekip Baru. Kondisi alam yang bagus inilah yang membuat banyak masyarakat Sekip Baru menggantungkan hidup dari hasil pertanian. Memang setiap rumah tak luas tanahnya tapi tanah masyarakat tersebut selalu produktif.
Rata-rata mengandalkan usaha sendiri. Menurut Karno kebutuhan sawi termasuk tinggi di Singkawang. “Sempat tak ada sawi di Singkawang karena banyak permintaan,” kata Karno. Kabupaten Sambas dan Bengkayang pun mengambil sawi dari Singkawang. Bahkan beberapa tahun lalu Karno juga sempat mengirim sawi untuk kebutuhan orang-orang Sintang. Sawi primadona di Sekip Baru. Meski pun sawi bukanlah satu-satunya tanaman yang diandalkan. Setelah 4 tahun menggarap tanah sewaan di Sekip Baru, ia merasa lebih bersyukur dibanding hidupnya di tahun-tahun ke belakang. “Alhamdulillah,” dan Karno tersenyum kembali.
“Puasa nggak?” tanya saya.
“Puasa Mas,” jawab Karno.
Setelah memetik dan menyiram sawi pekerjaan Karno belum selesai. Malamnya sekitar jam 12 ia akan berangkat ke Pasar Beringin kota Singkawang. Ia bawa satu sampai dua keranjang yang rata-rata beratnya 40 kg menggunakan sepeda motor. Di Pasar Beringin-lah Karno menjual semua sawinya. Karno akan nongkrong sampai pagi, sampai jualannya habis. Ia juga berharap calo dari Sambas membeli sawinya. Harganya tak mahal hanya 800-900 perak seikat. Bila ke tangan penjual berikutnya bisa mencapai 1500 perak.
Sore kian menjingga. Sebentar lagi berbuka puasa. Karno mengangkat mesin air di pundaknya. Saya pamit lalu mengucapkan terima kasih atas obrolan yang berharga ini. Dia tersenyum. Besok atau lusa, bila meja makan di rumah tersaji tumis sawi, saya pasti ingat, sawi itu dari kebun Karno di Sekip Baru.[]
Desember 26, 2007 pada 4:04 pm
blogwalking, semangat mas…
Februari 5, 2008 pada 1:19 am
Karno memang penuh semangat…… maju terus dengan usaha mu … salam dari Yogya