Philipus

Teks : Frino Bariarcianur Barus

Selama belasan tahun Philipus (32) hidup dipasung oleh keluarganya sendiri. Perlakukan ini bukan tidak beralasan, pihak keluarga khawatir kalau-kalau Philipus yang gila melukai orang-orang kampung.

Penyebab hilangnya kesadaran atau lebih dikenal dengan gangguan jiwa atau sakit jiwa yang dialami Philipus tidak diketahui pasti oleh keluarganya. Hanya menurut cerita keluarga, dulu waktu kecil ia sempat berkelahi dengan saudaranya. Philipus mendapatkan luka di kepala yang tak berarti. Hanya tumbuh bisul. Kemudian setelah diobati bisul di kepala Philipus sembuh. Ia pun seperti sedia kala dan tak ada gejala atau tanda-tanda mengalami gangguan jiwa. Namun di kemudian hari pihak keluarga curiga bahwa luka di kepala yang menyebabkan gangguan jiwa Philipus.

Gangguan jiwa yang dialami Philipus semakin terlihat ketika ia hampir menenggelamkan adiknya di sumur beberapa tahun lalu. Untungnya si adik cepat diselamatkan. Ia juga sering terlihat berteriak-teriak di kampung. Malah sempat mengamuk. Selama bertahun-tahun penderitaan Philipus tak kunjung berhenti malah terus menjadi. Sebulan sekali bila sakitnya datang Philipus menjadi tak terkendali. Bibirnya mengeluarkan busa dan tubuhnya menjadi tegang. Mirip seperti orang yang mengidap penyakit epilepsi atau ayan. “Ada setengah jam dia teriak-teriak,” kata Suryati (23), adik perempuan Philipus.

Bila kumat ia tidak mau makan. Hanya rokok dan kopi yang menjadi temannya. Keluarganya pun hanya bisa membiarkan Philipus menjadi tenang kembali tanpa tahu harus berbuat apa. Pihak keluarga benar-benar tidak mengetahui bagaimana menangani Philipus. Dengan melihat beberapa perilaku Philipus yang mencemaskan akhirnya terpaksa Philipus pun dipasung. Tak ada penolakan dari Philipus. Ia seperti paham akan dirinya. “Ia tidak memberontak,” kenang Suryati.

Suryati mengisahkan kalau Philipus sempat dua kali masuk R.S Jiwa Bodok, Kecamatan Singkawang Timur. “Waktu itu saya masih kelas 3 SD, abang dibawa ke rumah sakit.”Pilihan tersebut harus mereka lakukan demi menjaga keamanan. Mereka sangat takut kalau-kalau Philipus menganggu orang atau mencelakakan orang-orang kampung.

Meski telah dirawat Philipus tidak menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Malah Philipus tak betah di rumah sakit jiwa. Ia pun melarikan diri. Ia berjalan kaki dengan menempuh jarak kurang lebih 29 Km untuk mencapi rumahnya yang berada di Pangmilang. Saat melarikan diri ia masih mengenakan pakaian khas pasien rumah sakit jiwa. Keluarganya heran melihat Philipus tiba-tiba sampai di rumah. “Meski gila, dia masih ingat pulang ke rumah,” kata Suryati.

Orang yang pertama kali menyambut Philipus tak lain adalah sang ayah. “Ayah-lah yang menerima Philipus di rumah. Dan kami sekeluarga benar-benar kaget melihat Philipus bisa pulang kembali,” kenang Suryati.

Ayah Philipus bernama Uling dan ibunya bernama Tina. Mereka menghidupi keluarga dengan berjual jinton (karet) di Pasar Simpalit, yang jaraknya sekitar 3 Km dari rumah. Uling dan Tina hidup serba kekurangan. Dengan kondisi seperti itu mereka harus menghidupi 6 orang anaknya. Dan Philipus anak ke-3 mereka mengalami gangguan jiwa pula. Maka semakin lengkaplah penderitaan keluarga Uling. Namun kenyataan pahit itu tidak serta membuat Uling dan Tina patah semangat. Mereka tetap berusaha, mereka tetap mencintai dan memelihara Philipus.

Kini Philipus hidup sendiri. Pria yang hanya mengenyam pendidikan sampai kelas 5 SDN 17 Pangmilang, Kecamatan Tujuh Belas, Kab. Sambas (kini menjadi SDN 8, Singkawang Selatan) dibuatkan sebuah rumah kecil yang posisinya dibelakang rumah Suryati. Rumah kecil itu terbuat dari papan. Hanya ada satu kamar kecil dan satu dapur. Kamar itu menjadi ruang bermain, ruang makan, ruang tidur sekaligus ruang untuk Philipus buang hajat. “Ia bisa membersihkan dirinya sendiri,” kata Yanti, kakak ipar Philipus. Di kamar itu tersedia satu ember yang terbuat dari bekas kaleng cat untuk air, satu piring dan bantal. Ada juga beberapa helai pakain Philipus dan selimut yang tergeletak.

Di kamar tersebut terdapat sebuah alat yang membuat Philipus tak bisa pergi kemana-mana. Alat itu terbuat dari dua bilah papan yang berfungsi mengunci pergelangan tangan Philipus. Akibatnya tangan Philipus bengkak dan luka. Kalau sudah begitu biasanya pihak keluarga mengganti tangan yang satu lagi untuk dipasung. Sementara tangan yang terluka diobati hingga sembuh. Begitulah cara keluarga Philipus memasung sampai bertahun-tahun lamanya.

“Kalau dilepas, ia kadang suka mengamuk,” kata Yanti, kakak ipar Philipus.

Pihak keluarga Philipus sendiri sudah memasrahkan diri. Mereka berharap pemerintah atau siapa pun turut membantu menyelesaikan persoalan Philipus dengan baik. “Kami sudah pasrah,” kata Usman, adik ipar Philipus suami dari Suryati. Dan menurut Usman, pihak keluarga sudah mengajukan permohonan bantuan kepada petugas kelurahan. Namun setelah bertahun-tahun permohonan itu ternyata tak bisa dikabulkan. Setahun lalu pihak DPRD Kota Singkawang pun sudah datang menjenguk. Tapi apa daya bala bantuan belum juga tiba.

Saat rombongan Komnas HAM Kalimantan Barat, LBH Perlindungan Keluarga (PeKa), pekerja sosial Singkawang dan beberapa jaringan sosial lainnya datang pada Rabu (18/10) kemarin, rumah yang terletak di jalan raya Sagatani No 35, Kelurahan Pangmilang itu tampak gembira. Mereka melihat tanda bantuan akan datang. Pihak keluarga pun menyambut hangat rombongan. Usman langsung menunjukkan tempat dimana Philipus tinggal. Saat masuk ke dalam rumah rombongan Komnas Ham yang semuanya kaum perempuan terkejut melihat kondisi Philipus. Mereka orang-orang datang Philipus tampak gembira. Beberapa saat kemudian Philipus sudah terlihat akrab berbicara dengan rombongan Komnas HAM Kalimantan Barat.

“Kalau bunuh sih tidak,” kata Philipus menampik omongan kalau ia bisa membunuh orang.

Semua yang hadir cukup terkejut tapi tak urung tersenyum mendengar ungkapan Philipus. Saya mengambil beberapa gambar sesekali mengajaknya bicara. Dari sekian banyak pertanyaan yang diajukan ternyata Philipus masih sanggup menjawab. Meski pun sering susunan kata-kata Philipus sulit dimengerti. Malah ia sempat mencandai salah satu perwakilan Komnas HAM. “Warna baju ibu sama dengan piring saya,” kata Philipus yang lahir pada tanggal 1 Januari 1975. Tak pelak semua yang mendengar tertawa.

Lalu ia menunjukkan kertas kue yang diberi tetangga saat lebaran. Hatinya senang dengan menunjukkan bukti-bukti kepedulian orang-orang padanya. Ia juga diberi rokok. Ya, Philipus memang suka merokok. Ia juga suka bercerita. Ditanya pun ia masih bisa nyambung, itu pun kalau belum datang kumatnya. Meski dianggap gila hobby Philipus tak pernah hilang, ia rajin membaca koran.

Philipus Siap Dibawa

Kedatangan Komnas HAM Kalimantan Barat bersama aktivis perlindungan keluarga, pekerja sosial masyarakat dan aktivis lainnya yang didampingi pihak kepolisian sektor Pangmilang berdasarkan laporan dari aparat desa, yakni Petrus Rudi. Menurut pegawai administrasi Kelurahan Pangmilang ini ia diberitahu oleh Angguang salah satu anggota DPRD Kota Singkawang yang tinggalnya tidak jauh dari rumah Philipus. Setelah mendapat kabar tersebut Petrus langsung menghubungi Rosita Ningsih, Ketua Lembaga Perlindungan Keluarga (LBH PeKa) dan Maya Satrini, Ketua Pekerja Sosial Masyarakat Singkawang untuk melihat kondisi Philipus.

“Saya bilang pada Ibu Rosita dan Ibu Maya, bahwasanya di Pangmilang ada warga miskin yang cacat mental. Kalau bisa apakah LBH PeKa dan PSM bisa membantu memfasilitasi untuk melakukan pengobatan terhadap pasien.” kata Petrus.

Mendengar kabar dari Petrus, baik Rosita dan Maya langsung menghubungi pihak-pihak terkait yang kebetulan pula anggota Komnas HAM Kalimantan Barat punya agenda di kota Singkawang. Mereka pun melakukan koordinasi dengan beberapa jaringan. Ada Lembaga Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak, Dinas Kesehatan Pontianak, dan Ikatan Aktivis Peduli Perempuan dan Anak yang langsung berangkat menuju ke rumah Philipus. Sesampai di sana kedatangan mereka disambut baik. Ada harapan besar pada diri Suryati, Usman dan keluarga yang lain agar Philipus dapat ditangani dengan baik.

Setelah melakukan wawancara dengan pihak keluarga Philipus, rombongan menentukan arah kerja. Hairiah, SH, Ketua Komnas HAM Kalimantan Barat meminta agar pemerintah kota Singkawang dan pihak terkait cepat merespon kejadian ini. “Hal yang terpenting Philipus harus segera ditangani dengan baik, jangan karena persoalan administrasi pasien tak bisa diobati,” kata Hairiah.

Pemasungan ini pula menurut Hairiah bisa merupakan suatu tindak kekerasan namun itu karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan pihak keluarga menangani pasien. Apalagi pihak keluarga pernah berusaha menyembuhkan pasien dengan mengirim ke rumah sakit jiwa. Selain itu persoalan ekonomi menjadi penyebab utama kenapa penangangan kesehatan Philipus tidak ditangani dengan baik. Pihak Komnas HAM juga memuji keterbukaan keluarga Philipus saat mereka mencari informasi. Dan berjanji secepatnya melakukan penangangan serius terhadap Philipus.

Setelah rombongan Komnas HAM pergi, beberapa anggota keluarga berkumpul. Mereka benar-benar berharap bahwa kunjungan mendadak ini bisa membantu Philipus. “Nanti kalau dibawa jangan dipaksa, Philipus gak suka. Dia maunya disayang. mm..jangan lupa bawa koran, dia suka baca,” kata Yanti. Sementara di dalam kamar yang sepi, Philipus masih mengisap rokok. Ia memandang ke salah satu sudut ruangan. Sunyi.

“Kemana ibu-ibu itu?” tanya Philipus

“Jalan-jalan, nanti ke sini lagi,” jawab Yanti.

“Jadi ndak dia bawa aku?” tanya Philipus.

“Jadi…..” jawab Yanti.

Ia hembuskan rokoknya kuat-kuat. Dan Philipus tersenyum lagi. []

2 Tanggapan ke “Philipus”

  1. wahh diagnosis selanjutnya apa ya jadi penasaran :smile: :?:

  2. ceritanya dapat menjadi inspirasi bagi yang membaca, suatu keterbukaan yang bagus dari pihak keluarga filipus. terima kasih untuk bisa berbagi cerita.
    saya juga terlibat dalam penanganan kekerasan dalam rumah tangga.
    untuk kami meningkatkan kerjasama dengan berbagai pihak, bisakah kami mendapat informasi mengenai alamat LBH Pekanya, untuk menjadi referensi saya. terima kasih

Tinggalkan Balasan