//
reading
jalan-jalan

Dunia Baruku Dunia Motor CB

Terus terang aku tak begitu menyukai dunia otomotif, bagiku itu hobby sangat mahal. Mau motor tua atau pun motor kekinian, sama saja, tetap mahal. Tapi untuk sekadar melihat-lihat keunikan motor tua, aku suka. Paling bahagia kalo bisa megang tu motor, bayangin bro, hanya sekadar bisa pegang!

“Ya Tuhan…seandainya……” begitulah kira-kira ucapanku kalau sedang mengelus sepeda motor yang keren.

Kalau sudah begitu, biasanya aku membayangkan bagaimana proses seseorang membangun sebuah motor tua. Harus rajin hunting cari onderdil, tanya sana sini, minta info di milis-milis, telpon mantan pacar yang bokapnya pecinta motor tua, bengkel dan sebagainya.

Belum lagi kalau si sepeda motor tua itu lagi kumat. Hmmm….butuh energi besar untuk membuatnya jadi sembuh lagi; tidak mogok. Dan seterusnya. Selama bertahun-tahun kerjaanku hanyalah memandangi sepeda motor tua milik orang lain. Bertahun-tahun pula aku hanya bisa mengelus dan membayangkan memiliki sebuah motor tua.

Dan kini, 13 tahun tinggal di Bandung, kemudian sering melakukan perjalanan jauh menggunakan kendaraan umum kelas ekonomi, pilihanku jatuh pada sepeda motor CB.

Mulai menyenangi  motor CB ini akibat keunikan seorang kawan yang selalu bercerita tentang suka duka merawat motor CB. Terlebih-lebih kalau melihat kawan itu sedang kesal lantaran motor CB nya lagi rewel. Pecah ban, putus rantai, gak mau hidup, seperti cerita kawan sebelumnya, tiada cara lagi, mendorong motor CB adalah cara terbaik untuk mencapai rumah. Bisa jadi ini bentuk rasa ke-CB-an yang progresif dan radikal. Sungguh ideologis temenku yang satu itu.

Terakhir kudengar ia sedang memperbaharui visual motornya. Dan ini bisa jadi pula sebuah usaha lain, untuk membantu keindahan dirinya sendiri. Bisa dibayangin, kaalau harus mempermak wajah sendiri, butuh 3 -5 kali operasi plastik untuk bisa mencapai wajah seperti Brad Pitt atau Johny Deep.

Tak jauh berbeda denganku, kami bekerja mewartakan berbagai peristiwa. Dia, pada berita politik, aku pada seni budaya.

Saking banyaknya dapat cerita, maka harus dibuktikan sendiri kedahsyatan motor CB buatan penjajah jepang ini. Maka setelah sebulan lebih ber-travelling di Bali-Lombok akhirnya aku singgah di Yogyakarta, negerinya para seniman.

Sekitar seminggu lebih keliling-keliling kota Yogyakarta, kadang dibonceng seorang kawan tapi lebih seringnya jalan kaki dan naik bis kota.

Akhirnya bro, 3 hari sebelum tahun baru Islam, kalo ga salah, aku mendapatkan motor CB. Bayangin, sebelumnya aku berjalan kaki berkeliling Godean, Gamping, trus kota Yogyakarta. Masuk gang ke luar gang…….Memang benar di Yogyakarta banyak para penunggang motor CB. Mereka juga sering kumpul di daerah Malioboro. Dan aku merasa, saat itu, sakit hati melihat motor-motor CB yang bagus-bagus itu ternyata tidak dijual! Sementara di otak ini, terus menerus teringat cerita-cerita kawan yang di Bandung.

Begitulah. Akhirnya kudapatkan motor CB keluaran tahun 1974. Ada mesinnya pasti. Masa beli motor CB ga pake mesin. Lengkap dengan surat-suratnya. Bagaimana kondisi mesinnya?

Sumpah mati aku ga ngerti soal mesin. Sama sekali buta. Aku mengenal istilah block, platina, spul, dan beberapa istilah lain, tapi gak tau yang mana bagian-bagian pada mesin itu. Jadi patokanku sederhana, sekali selah tu motor kudu nyala dan bunyinya enak di kuping.

Selebihnya aku mempercayakan penuh pada si penjual.

Motor CB 100 1974, yang kudapatkan masih menggunakan sistem pengapian platina. Kondisi dalam block cacat akibat rantai keteng tapi ditambal dengan lem mesin. Kata bengkel sih kuat. Okelah. Kudapatkan dengan harga cukup tinggi. Tapi semuanya itu tak berarti, yang pasti saat sampai di Bandung akan kutarik gasnya kuat-kuat.

Tepat 1 Muharram di tahun 2008 pukul 12.00 aku keluar dari kantor sekretariat AJI Kota Yogyakarta di Widjilan. Berputar-putar dulu di kota Yogyakarta buat pemanasan. Prinsip perjalanan selalu sama, kalau badan enak, feeling oke, insya allah perjalanan akan sampai ke tujuan.

Setelah semuanya dirasa nyaman, akhirnya kupacu motor CB ku menuju wilayah barat pulau Jawa, alias jawa Barat. Menggunakan rute selatan. Tanpa pengetahuan mesin, tanpa pengetahuan jalur, hanya bermodalkan ingin mencoba kedahsyatan motor CB.

Jalur Selatan Jawa sangat menyenangkan. Ga mulus-mulus juga, tapi okelah. Tiba di Kota Cilacap sudah gelap. Nah, karena belum pernah melewati jalur ini, aku bertanya dengan orang-orang. Sempat juga bolak-balik karena ga yakin. Akhirnya setelah mengisi perut di warung tegal kuyakinkan hati untuk melewati jalur yang diarahkan penduduk.

Aku menyusuri jalan gelap, sangat gelap. Lampu sepeda motor ini, mungkin sekira 2 meter aja jaraknya. Orang yang memberi tahuku keterlaluan, masa sih, aku yang ga punya pengalaman disuruh melewati jalur alternatif yang dihiasi hutan ini? Sampai kencing pun tak berani kumatikan motor cb. Gila aja kalo sampai ga bisa hidup. Gila, tak ada satu pun lampu di jalur ini.

Aku masih sendiri….menembus malam. Sendiri.

Setelah 11 jam perjalanan, ternyata aku tersesat di daerah pantai selatan Jawa Barat. Semangatku membara lagi. Tapi harus istirahat. Pilihanku adalah hotel kuda laut. Aku nginap di SPBU Pangandaran. Lalu paginya menuju pantai Batu Karas. Hehehehehe……..tersesat di tempat wisata kayak gini, tidak membuat susah. Tapi menyenangkan.

Dan si motor CB, sama sekali tak mogok, tak rewel. Kucium motor ini…bukan main! Akhirnya tahun baruku kesampaian; memandang lautan bersama motor CB milik sendiri!

Seminggu di Batu Karas, tujuan final tapi bukan akhir perjalanan, yakni Kota Bandung. Bensin kosong, lantas kuisi 20 ribu perak. Dan gila, aku nyampai di bandung kawan-kawan…..aku pengen terharu tapi malu. hihihihihi……….

Aku berhenti di bibir perbatasan kota, duduk di atas motor CB, menyulut rokok kretek. Kesedot dalam-dalam asap racun itu, kuisap pula polusi udara kota, lantas mengingat perjalanan awal menggunakan motor CB.

Dari kota Gudeg, Yogyakarta tersesat di Pantai Batu Karas dan tiba di Kota Bandung. Kini aku tak sendirian lagi, perjalananku sudah ada kawan sejati. Meski beberapa peralatan sebagai jurnalis selalu menemani, Motor CB inilah yang membuatku menjadi semangat lagi berkeliling dari kota ke kota lain di Indonesia.

Saat sedotan terakhir rokok kretek, aku bertanya dalam hati,”Ini motor atau belahan jiwaku yang dulu hilang?” aku tertawa di atas motor, sumpah benar-benar tertawa….sekeras-kerasnya. Ini hijrah yang membuatku bangga sendiri. Sebuah pengalaman baru yang benar-benar tak terlupakan sepanjang hidupku.

Tapi bro, aku dah jadi bikers belum ya? []

# Motor itu kuberi nama Dian Beatrix, Honda CB 100cc tahun 1974.

Tentang frinodoc

berharap menjadi orang humoris seperti Spongebob, menyukai laut dan mudah terharu

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.