Arsip untuk jalan-jalan kategori

Ninja Bandung

Dikirim jalan-jalan pada April 29, 2007 oleh frinodoc

ninja-bandung.jpg

Foto/teks : Frino Bariarcianur Barus

Di tepi jalan atau di depan factory outlet kota Bandung sering terlihat orang-orang menjual boneka. Bentuknya beragam dan lucu-lucu. Salah satunya boneka Ninja yang dibuat oleh Pak Edet Sutisna [52].
Baca selebihnya »

Di Tepi Kapuas

Dikirim jalan-jalan pada Maret 10, 2007 oleh frinodoc

tepi.jpg

Teks/photo : Frino Bariarcianur

Aku sedang mengingat-ingat Sungai Kapuas. Sebuah lirik lagu Ae’ Kapuas sudah kucatat rapi. Di tepi Kapuas kunyanyikan lagi lagu kebanggaan orang-orang Pontianak ini. Pelan-pelan.

Hei… sampan laju sampan laju dari ilir sampai ke ulu, Sungai Kapuas sunggoh panjang, dari dolo’ membelah kote

Sungai Kapuas yang keruh ini panjangnya mencapai 1000 Km lebih dan melintasi hampir seluruh wilayah Kalimantan Barat. Diantaranya Kota Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang, Semuntai, Sekadau, Sanggau Kapuas dan Pontianak. Nggak bisa dipungkiri Sungai Kapuas memiliki peranan penting dalam keberlangsungan hidup masyarakat di Kalimantan Barat. Tidak peduli itu orang Dayak, Melayu, Cina, Sunda, Jawa, Padang semuanya menyadari peranan Sungai Kapuas ini.

Di dalam sejarahnya sungai ini pernah menjadi jalur terpenting dalam penjualan kayu ilegal sampai sekarang, tempat pembuangan bangkai orang-orang Cina (Kapuas Berdarah), sebagai tempat pertunjukkan seni dan budaya (festival), transportasi dan wisata. Selain itu Sungai Kapuas juga masih dijadikan tempat untuk mencuci baju, membuang kotoran, tempat latihan renang, lomba dayung dan lain sebagainya.

Di tepi Kapuas kita dapat melihat semua pemandangan itu sekaligus.

Hei… tak disangke, tak disangke dolo’ utan menjadi kote
Ramai pendudoknye Pontianak name kotenye

Tempat yang asyik sampai saat ini memang masih di Alun-alun Kapuas yang berada di depan Kantor Korem 121 Alambhanawanawai. Di alun-alun ini banyak yang berdagang makanan, minuman dan beberapa mainan buat anak-anak kecil. Duduk sambil menyeruput teh dan mendengarkan suara burung elang yang sedang berputar-putar di atas Kapuas memang menjadi keasyikan sendiri. Kalau beruntung kita akan melihat bagaimana seorang anak kecil usia 8-12 tahun dengan mudahnya menyeberang sungai kapuas! Anak-anak kecil ini termasuk nekat karena mereka kadang hanya menggunakan sebilah kayu sebagai pelampung.

Pemandangan ini pun semakin lengkap bila kita menyusuri sungai Kapuas menggunakan kapal tradisional Lancang Kuning—kapal khas kerajaan Melayu—yang tertambat di pingggir dermaga alun-alun. Kapal sederhana ini memang dirancang untuk membawa wisatawan menyusuri Sungai Kapuas. Travel-travel juga menyediakan fasilitas kapal-kapal serupa. Malah kita dapat menikmati makan siang di atas kapal.

Bila senja carilah tempat yang enak. Meski tak bisa melihat matahari terbenam seperti di pantai, kita akan terpuaskan dengan warna langit jingga, hilir mudiknya bandong-bandong (kapal penumpang di sungai), nelayan sungai dan anak-anak yang mandi dan sekali lagi bila beruntung melihat anak dara yang sedang mencuci baju. Eksotik!

Bagi Anda yang baru pertama kali ke Pontianak saran saya jangan gunakan pesawat terbang karena masuk ke negeri ‘kuntilanak’ ini paling eksotik melalui muara sungainya yang sangat lebar. Ada semacam energi yang masuk ke tubuh kita. Kapal akan bergerak pelan, seakan-akan menyihir kita untuk menyerap energi khatulistiwa ini. Pengalaman ini nggak bakalan ada di tempat lain.

Ketimbang saya banyak cerita, lebih baik Anda datang dan buktikan sendiri. O ya, menurut mitosnya sekali minum air kapuas, Anda akan selalu ingin datang kembali. Buktikan saja.

Ah, sepertinya kertas berisikan lirik lagu ini sudah tak penting lagi, selain sudah hapal aku sudah menenggak air keruh Sungai Kapuas. Rasanya aneh tapi menyegarkan. Yuk, ke negeri air Kota Khatulistiwa, berenang di Sungai Kapuas.

Sungai Kapuas punye cerite Bile kite minom ae’nye
Biar pon pegi jauh ke maneSunggoh susah na’ ngelupakannye
Hei… Kapuas Hei… Kapuas

* Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Memo, edisi Agustus 2006

RUANG BANDUNG ‘YANG LAIN’

Dikirim jalan-jalan pada September 9, 2006 oleh frinodoc

Oleh : Frino Bariarcianur Barus

Lagi hang-out di Bandung? Sempatkan juga ke ruang-ruang yang lain, banyak kejutannya.

Cerita ini bermula kala saya datang (lagi) ke Bumi Parahyangan. Setelah enam bulan bergelut mencari data di Kalimantan Barat. Ada kerinduan besar, ada magnet, bisa jadi sihir yang menghipnotis untuk mengalami lagi semua peristiwa di kota ini. Terutama di ruang-ruang yang saya sebut, ruang ‘yang lain.

Di kota Bandung khususnya, ruang ‘yang lain’ termasuk salah satu pendorong perubahan dalam denyut kehidupan urban. Bahkan seringkali menjadi inspirator dan tanda hadirnya suatu bentuk praktik budaya mutakhir di Indonesia. Mulai dari musik, gaya hidup, fashion, makan bahkan kata-kata prokem yang sering kita gunakan sehari-hari, seperti kata aing [aku], goblok, atau huntu [gigi], sering kita dengar di sela-sela obrolan.

Kota Bandung memang nggak ada mati-matinya, “Ini Bandung men!” begitulah kata orang-orang.

Lantas, untuk menuntaskan rasa rindu, saya ayunkan langkah menuju kawasan Terminal Ledeng, yang posisinya sangat berdekatan dengan kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

Ruas jalan ini tak pernah sepi. Selalu penuh dengan aktivitas semisal angkot yang ngetem, polisi yang meniup peluit, mahasiswa yang makan di jalan, pedagang kaki lima sampai pengamen jalanan. Di ruas jalan itu ada gang sempit, namanya Gang Bapa Eni. Gang ini tidak berbeda dengan gang-gang sempit lain di Bandung. Bedanya, gang ini memiliki aktivitas seni yang padat. Di sinilah Central Cultural Ledeng (CCL) lahir. Tempatnya luas dan dipayungi rimbun pepohonan. Sementara lapangan tengah menjadi pusat kegiatan segala macam aktivitas seni. Mulai dari kegiatan teater, membaca puisi, musik, sampai perhelatan kelas internasional pernah digelar di sini. Ketika saya datang suasana tampak sepi. Hanya ada satu dua orang yang sedang menjemur pakaian.

Berdiri di tengah lapangan ini mengingatkan kampung halaman.

CCL itu unik. Dibangun di tengah kamar-kamar kost yang bersusun dan bertingkat. Mulai ramai saat para penghuninya pulang dari kampus. Jumlahnya puluhan. Dan mereka, rata-rata anak kost yang bergelut dalam dunia kesenian.

“Saya memilih tempat ini lantaran suasananya membantu proses berkesenian. Inspiratif. Kata Yudi AB, seorang perupa asal Subang. Dia tak mengenakan baju dan asyik mengerjakan kanvasnya. Kamar Yudi penuh dengan lukisan-lukisan pemandangan. Hampir semuanya realis. Selain itu, sama seperti saya, Yudi juga menyenangi tempat ini karena mengingatkan kampung halamannya. “Saya senang kalau bangun pagi karena pertama yang dilihat pohon-pohon rindang. Yudi, yang saya temui di kamar kostnya, adalah lulusan FISIP Universitas Soedirman, Purwokerto.

Sebelum angkatan Yudi sekarang, Aa Gym, kiai yang lucu itu juga pernah kost di CCL. Menurut kabar dari mulut ke mulut, Aa Gym juga nakal tak beda jauh dengan anak-anak muda yang tinggal di sana. Menyusul, ada seniman seperti Heri Dim, Godi Suwarna si Raja Penyair Sunda, dan masih banyak yang lainnya. Kampung seni Gang Bapa Eni telah banyak mencetak seniman kawakan di Bandung.

Hadirnya perkampungan CCL tak lepas dari tangan kreatif Iman Soleh. Lelaki berperawakan besar asli Cigondewah ini adahah seorang dosen, aktor, sutradara, penyair sekaligus penyanyi dadakan. Komplit. Dialah yang paling gencar mempromosikan CCL ke setiap orang yang dijumpainya. “Komunitas seni di sini sebenarnya sudah lama ada,” kata Iman Soleh.

“Namun denyut kehidupannya mulai terasa ketika Hadang Ismet rutin mengadakan kegiatan seni,”.

“Kalau tidak salah ditandai pada perayaan jatuhnya Soeharto, sekitar tahun 1998.”

Ya, waktu itu kehidupan seni kerap dicurigai sebagai salah satu otak provokator kebencian rakyat terhadap pemerintahan yang korup. “Dunia seni tidak bisa lepas dari politik,” katanya lagi. Dan seniman yang—-mudah terharu—melihat situasi sosial itu bangkit untuk mengkritik lewat kerja kreatif mereka.

Banyak suka duka membangun ruangan sederhana macam CCL. Suatu kali, Iman Soleh dan beberapa anak kost pernah ‘dikerjai’ pihak berwajib: disuruh jalan bebek dari CCL sampai terminal ledeng! “Satu malam kami dikeureum. Katanya sih pementasan kami nggak punya ijin,” kenang Iman Soleh sambil tertawa.

Tak hanya di Bandung, tempat-tempat ‘yang lain’ pun merasakan hal sama bagaimana represifnya pemerintah kita dulu terhadap dunia kesenian. Bolak-balik buku sejarah, bolak balik kaki saya melangkah selalu saja kisah-kisah seperti ini saya dapatkan. Ah, saya hanya bersyukur tidak ditempatkan hidup di jaman itu. Jaman yang menakutkan dan tidak sembarang orang bisa bertahan. Hanya orang-orang tertentu saja yang kuat.

Iman Soleh tak jera meski kadang isi kantongnya keluar untuk kegiatan CCL. Totalitas tadi yang membuat Iman Soleh dan teman-teman CCL bertahan. Bila kantongnya tak cukup untuk menyelenggarakan suatu pertunjukkan, Iman Soleh menghubungi teman-temannya meminta bantuan. “Disinilah akan tampak bagaimana rasa kekeluargaan di dalam dunia kesenian. Ada yang menyumbang konsumsi, sound system, dan penalatan yang lain.

“Di dalam dunia kesenian kita tidak boleh hilang akal. Jika tidak punya ini ya gunakan itu, semuanya pasti bisa,” tuturnya.

Saya jadi ingat saat CCL menggelar pertunjukkan teater berjudul “Jaman Togel” sekitar tahun 2001. Kala itu hujan deras. Penonton banyak yang berlindung di bawah pohon. Sementara anak-anak kost menonton dari kamarnya yang berada di lantai dua. Sehingga tak perlu kebasahan seperti saya dan penonton yang lain. Namun, anehnya penonton tidak surut malah bertambah banyak. Mungkin inilah sihir dari ruangan ‘yang lain’.

Ditengah-tengah pertunjukkan, Iman Soleh sibuk membagi-bagikan kantong kresek untuk penonton, buat menutup kepala. Meski tak ada bir, bajigur hangat pun sangat ampuh untuk mengurangi rasa dingin. Semua yang hadir basah. Tapi pertunjukkan tetap berlangsung, memikat hati penonton. Malah ada pemain yang terpeleset karena tanahnya licin. Semua penonton tertawa.

Malam itu menjadi kenangan yang sulit dilupakan.

Sekarang CCL makin berbenah diri. Dalam catatan harian saya, CCL pernah mengundang seniman kawakan Indonesia sepenti Sawung Jabo, pencipta lagu “Melati Dari Jayagiri” Abah Iwan Abdurahman, almarhum Kang Harry Roesli, Patrick seniman dari negeri fashion Perancis dan masih banyak lagi sederetan nama. Disamping itu CCL juga bekerja sama dengan organisasi-organisasi nirlaba baik di Indonesia dan di luar negeri. Tahun depan, rencananya, CCL akan bekerja sama dengan Majelis Sastra Asia Tenggara. “Nanti yang hadir kawan-kawan dari Malaysia, Singapura dan Brunei,” ungkap Iman Soleh.

Hal yang paling utama—setidaknya bagi saya CCL mampu melibatkan warga sekitar menjadi pelaku sekaligus sensor dalam setiap perhelatan kesenian. Contohnya Pak Asep Sugandi (Ketua RW), pernah menjadi sutradara untuk Tonil Nagrak. Malah para penjual gorengan di terminal ledeng sering memberi sisa jualannya untuk cemilan para aktor ketika tengah berlatih.

“Siapa pun boleh bertandang dan membuat pertunjukkan di sini, tapi hanya lewat bentuk pertunjukkan seni dan budaya,” kata Iman Soleh tegas. Buka lagi catatan harian, CCL pernah mengundang tokoh politik dan calon walikota Bandung untuk manggung di CCL. “Yang penting mereka semuanya berniat baik, Insya Allah semua bisa jalan.”

Setelah puas menikmati suasana CCL, saya ayunkan lagi langkah. ‘Rumah Buku’, jadi tujuan selanjutnya. Ruang ‘yang lain’ dengan titik fokus kegiatan pada peminjaman buku dan pemutaran film-film non hollywood (foreign). Dari Terminal Ledeng saya menggunakan angkot untuk mencapainya, sayang jalanan lagi macet. Jadi agak lama. Selidik punya selidik ternyata ada pembongkaran rumah di jalan Cihampelas.

Sampai di pertigaan jalan Hegarmanah, saya berjalan selama kurang lebih 15 menit. Bila tidak kuat menanjak gunakanlah ojek, ongkosnya cuma 2000 perak. Daerah Hegarmanah termasuk wilayah elit dari jaman Belanda sampai sekarang. Terkenal juga sebagai pemukiman orang-orang militer. Menyusuri jalan Hegarmanah kita akan dipayungi pohon-pohon besar.

Tak terasa yang dituju sudah di depan mata.

Kesan pertama masuk ke rumah No.52, adem. Instrumen musik mengalun pelan memenuhi seluruh ruangan. Hanya ada seorang penjaga ruangan yang tengah asyik di depan komputer. “Permisi Mbak,” saya menyapa.

Ruangan ini nyaman. Buku-buku dan koleksi film tersusun rapi di tiap rak. Ada beberapa poster menghiasi ruangan. Dan di tengah ruangan terdapat meja panjang untuk bersantai. Saya asyik mengamati ruangan ini sembari membuat kopi tubruk gratis. Di Rumah Buku tersedia fasilitas untuk nonton, bagi yang beragama Islam tersedia mushola, wc, dapur, halaman belakang yang sejuk. Semuanya benar-benar bersih dan tertata rapi.

Tak lama kemudian…

“Hai Frin, si bulbul tuptup..” suara dan tawanya mengagetkan. “Dah lama?” tanya pemilik suara itu. “Belum,” jawab saya. Lantas kami bersalaman dan berbasa-basi sebentar.

Ariani Darmawan nama pemilik suara itu. Lulusan arsitektur Universitas Parahyangan dan seorang Master of Fine Art di School of the Art Institute, Chicago. Hobby-nya nonton film, bikin film pendek, baca buku, piawai juga dalam urusan design grafis dan pengusaha kafe di daerah Ciumbuleuit. \

lmpiannya di Rumah Buku ini sederhana, menyediakan bahan referensi bacaan bagi siapa pun.

Cita-cita Ariani itu dipupuk sejak sekolah di Chicago. Ia salut dengan service perpustakaan kampusnya. Jika tak ada buku di sebuah perpustakaan, maka pihak pengelola menghubungi tempat lain untuk mencari buku yang dicari.”Tidak perlu kita harus ke tempat itu, tinggal tunggu beberapa hari buku sudah ada,” kenang Ariani.

Rumah Buku adalah wujud dan pengalamannya di sana.

Maka, Maret 2003 silam, ia mulai membuat rancangan. Keluarganya membantu menyediakan tempat. Selebihnya, adalah hasil tabungan ketika menjadi asisten dosen di Chicago, berikut hasil nyambi kerja sebagai desainer grafis, dan menjadi freelance produksi film. Uang itu sedikit demi sedikit digunakan untuk menambah koleksi bukunya. “Semua buku yang saya beli di sana bekas. Harganya bisa mencapai 40% dari harga awal.”

Dia benar-benar sendirian mendirikan Rumah Buku.

Kini setiap tiga bulan sekali Rumah Buku selalu mengadakan bazar. Book’s Day Out namanya. Acara ini didukung oleh kawan-kawan Ariani. Ada dari Tobucil (baca:edisi pertama) dan Ominium yang menjadi partner dalam penyelenggaraan acara. Di Books Day Out kita dapat melihat bagaimana pecinta buku berkumpul dan berbagi pengalaman. Tak hanya soal buku, film pun menjadi salah satu andalan untuk menggaet pengunjung. Terlebih-lebih Ariani sendiri memiliki perhatian khusus terhadap dunia film. Di Bandung, Ariani dikenal sebagai salah satu video maker berbakat. Beberapa karyanya pernah dipublikasikan dalam festival lokal dan luar negeri. Diantaranya; Silenced (2004), It’s Almost There (2001) dan City of Desire (2000).

Pada acara book’s day out yang ke-4, Ariani memutar film favorite-nya, Celebration (Festen) karya Thomas Vinterberg yang menggondol penghargaan Special Jury Prize di Cannes Film Festival tahun 1998. Dan juga merupakan karya pertama dalam gerakan Dogme 95 yang menganut paham kamera harus hand-held, tidak ada cahaya buatan, lokasi syuting harus natural dan sebagainya.

“Frin, lu harus nonton film ni, harus!” katanya setengah memaksa. Selain Thomas Vinterberg, Ariani juga menyukai karya-karya Elfriede Jelinek, Michael Haneke, dan Bela Tarr.

Karena penasaran saya pun menonton. Film tersebut menceritakan tentang reuni sebuah keluarga pada acara perayaan ulang tahun ke-60 sang ayah. Bagi yang terbiasa dengan film-film Hollywood tentulah bosan menonton film gerakan Dogme 95 ini.

“Saya ingin Rumah Buku tetap seperti ni, lebih pada mengutamakan pelayanan penyediaan buku-buku. Nggak perlu ramai…” ujar Rani.

Obrolan siang itu tuntas. Rani pun harus kembali bekerja : mengurus buku, melihat laporan, membuat program reguler, mengedit naskah, dan masih banyak lagi. Saya pamit dan meninggalkan semua rasa nyaman di Rumah Buku.

Tempat ketiga yang saya kunjungi kali ini letaknya di jalan Sunda No.39 Bandung. Cukup jauh dari Rumah Buku. Untuk mencapainya, lagi-lagi angkotlah pilihan terbaik bagi orang-orang yang tidak memiliki kendaraan seperti saya. Lumayan, menyamankan kaki sejenak sembari menikmati kemacetan lalu hintas.

“Kiri!” saya berhenti tepat di jalan Sunda 39.

Tanpa ba-bi-bu saya langsung masuk menjelajahi seluruh ruangan. Di lantai bawah terdapat toko mainan untuk koleksi sekaligus terdapat perpustakaan komik. Toko mainan ini berdiri tahun 2000 dengan nama ‘Zero’ yang menjadi cikal bakal berdirinya ‘Zone 39’. Di depan Zero ada clothing yang menjual pakaian dan segala tetek bengek kebutuhan keindahan tubuh. Toilet ada di sudut ruangan.

Dari pintu masuk belok kiri barulah kita dapat menemui galeri Bay The Way alias Be Te We. Galeri ini sebenarnya berfungsi sebagai salah satu daya tarik Zone 39. Tempatnya tidak besar berukuran kurang lebih 10 X 3 meter. Cukup menampung sekitar 30 orang.

Sejak dibuka pada bulan September 2004, Galeri Be Te We sudah memamerkan banyak karya-karya seniman muda. “Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk berpameran di BTW,” kata Aldo Ikhwanul Khahid, pemilik Zone 39. “BTW juga tidak akan membayar kepada seniman yang berkarya di BTW.”

Misi BTW sendiri memberi kesempatan pada seniman muda untuk berpameran tanpa aturan ketat dari sebuah galeri. BTW lebih menekankan pada semangat daripada hasil akhir, eksperimental daripada konvensional. Karya-karya yang dipamerkan pun tidak melulu soal lukisan tetapi juga fotografi, video, instalasi, grafiti, performance art dan sebagainya.

“Tidak ada batasan, format, karya atau pun reputasi di sini. Siapa saja boleh berpameran di sini,” kata alumnus Unpad yang hobi membuat sesuatu, misalnya merakit mainan tank.

Setelah puas di lantai dasar saya ke lantai dua. Ada kafe mini dan beberapa ruang yang masih kosong. Suasana masih sepi ketika saya masuk. Padahal menurut rencana ada diskusi mengenai performance art. Saya memesan softdrink.

Selang bebenapa lama, muncul Heru Hikayat, Armand Jamparing lalu susul menyusul Ferial Affif, Iwan Wijono, Yogyakarta dan dua orang gadis cantik Jane Jin Kaisen dar Denmark dan Huang Min Chi dari Taiwan. Belakangan muncul juga Isa Perkasa yang telah menyatakan pensiunan dari dunia performance art namun selalu hadir bila diundang untuk menyaksikan seniman-seniman muda Bandung berkarya.

Sayang kurangnya publikasi diskusi sore itu hanya diikuti beberapa orang saja. Obrolan santai pun lebih banyak bercerita tentang fenomena-fenomena performance art yang in belakangan ini. Dalam obrolan itu ada nada kekhawatiran, ada nada kegetiran juga ketakpastian dari performance art itu sendiri. Bisa jadi itulah yang menjadi alasan kenapa Isa Perkasa, perupa yang dulunya aktif melakukan performance, kini lebih memilih kanvas —seperti dulu lagi sebagai ruang ekspresinya.

Obrolan basa-basi itu pun tuntas begitu saja.

Babak berikutnya adalah performance art yang sudah dinanti-nanti. Ruangan yang kecil membuat penonton harus berdesak-desakan. Namun tetap enjoy mehihat bagaimana pakaian perempuan yang dikenakan Iwan Wijono digunting satu persatu hingga yang tersisa celana dalam dan bra. Atau bagaimana enjoynya penonton melihat Soge melahap cabe rawit. Pertunjukkan ekstrim seperti ini memang hanya dapat ditemui di nuang-nuang yang lain’ sepenti ini.

Bukan performance art namanya kalau nggak bikin sebal penonton. Huang Min Chi seniman muda asal Taiwan meminta penonton untuk masuk ke salah satu ruangan. Ia juga masuk dan menyemprot parfum. Bau badan dan bau wangi bercampur aduk. Entah maksudnya apa? Tapi yang pasti bikin pusing kepala. Setelah puas menyemprot ia lantas menutup pintu. Kalau tidak cepat dibuka pasti ada yang pingsan. Tapi untunglah rata-rnata penonton sudah terbiasa diisengin seperti itu. Huang Min Chi hanya tertawa. Dasar.

Begitu juga dengan Jane Jin Kaisan dari Denmark tak kalah isengnya. Cewek keturunan Korea ini memberi stempel di dahi penonton. Ia sedang bercerita bagaimana nggak enaknya jadi ‘pendatang haram’ di suatu negeri. Harus punya visa, paspor dan bla-bla-lainnya. Bila orang yang tak punya penlengkapan tensebut, masuk ke dalam tahanan. Si Tisa, seniman juga, pas di-stempel berteriak keras, rupanya stempel Jane mengenai jerawat Tisa.

Begitulah gambaran ruang ‘yang lain’ secara ringkas berdasarkan pengalaman yang saya temui akhir-akhir ini di Bandung. Sebenarnya ruang ‘yang lain’ masih banyak lagi, diantaranya; IF Venue, Room No.1, Potluck, Common Room, Rumah Proses, termasuk GOR Saparua yang pernah menjadi tempat berkumpulnya anak-anak underground Bandung. Malah dulu ada ‘Galeri Barak’ yang sangat fenomenal dengan pameran-pameran seni rupa, tapi sayang sudah almarhum.

Ruang-ruang ini, bagi saya, selalu punya kejutan di dalamnya. Penuh daya tarik, ekstrim, gaya, ideologis yang semuanya berbaur menjadi satu dalam semangat kumaha aing [baca : gimana gue]. Sekarang saya harus pulang, cape!***

* tulisan ini pernah dimuat di Majalah Bandung & Beyond.