Arsip untuk sastra kategori

Apa Kabar Vagina?

Dikirim sastra pada Maret 27, 2007 oleh frinodoc

Oleh : Frino Bariarcianur Barus

demi kemaluan ibuku
yang basah saat aku pertama membuka mata
aku benar takut, setakut-takutnya
menengadah ke langit
buta

Semua laki-laki –termasuk homo—penasaran dengan liang sempit yang memiliki elastisitas itu, namanya vagina. Meski terlahir di dunia dari liang vagina tidak lantas membuat rasa penasaran laki-laki tuntas. Rasa penasaran itu membuat laki-laki semakin ingin menyentuhnya, mengelus, menciumnya, menjilatinya bahkan ingin bicara padanya. Apa kabar vagina?
Baca selebihnya »

Burung Keramat Keluarga

Dikirim sastra pada Maret 21, 2007 oleh frinodoc

Oleh : Frino Bariarcianur Barus

“Jangan ke sane!”
“Kenape?”
“Sie-sie!”

Tapi laki-laki keras kepala itu tetap melangkah menuruni tangga rumah. Tekadnya sudah bulat mencari burung keramat, Enggang Gading Kuning Emas yang dapat bicara seperti manusia. Keinginan laki-lakiitu telah memuncak dan tak bisa ditawar-tawar lagi.

Dia sudah muak dengan dongeng yang diceritakan turun-temurun di keluarganya. Anehnya cerita itu hanya ada di keluarganya tidak di masyarakat.

Benar atau tidak, dongeng yang sudah mendarah daging dalam dirinya itu harus dibuktikan. Tidak ada jalan lain kecuali harus mencari dan menemukan sendiri Burung Enggang Gading Kuning Emas. Wajahnya terlihat tegang, gerahamnya bergerak-gerak. Sorot matanya berapi-api.

“Mitos ni harus kubuktikan kebenarannye.”

Perlengkapan sudah disiapkan. Camera Nikon F 3, puluhan roll film dan buku catatan. Lengkap sudah. Sementara langit gelap, hujan masih membasahi Khatulistiwa. Laki-laki itu menoleh ke belakang, Pontianak telah menjadi kecil di matanya.

***

“Pak, Zeda pergi mencari burung keramat!”
“Kapan?!”
“Tadi siang.”
“Kenape tidak kau tahan?”
“Sudah! Die tetap berkeras.”
“Bang, ape jadinye anak kite si Zeda tu,” timpal emak cemas.
“Abang tak tau. Nampaknye sejarah keluarge kite akan terulang lagi.”
“Si, kau cari budak tu, jangan sampai die pergi jauh, kau hubungi keluarge kite di Putussibau. Juga pakcik kau yang di Korem. Kalau tak ketemu kau tak bisa kawin dengan Rima!”

Begitulah tabiat Bapak, cepat naik pitam jika sesuatu terjadi dengan Zeda. Kalau sudah begitu maka Samsilah yang kena batunya. Ucapan Bapak yang tak bisa dibantah itu keluar dan Samsi sadar ancaman itu bukan gertakan sambal belaka. Tak ada pilihan lain selain mengikuti keinginan bapaknya. Samsi bergegas ke luar dari rumah.

***

Sudah enam bulan berlalu tapi Samsi belum mendapatkan hasil. Ia telah pergi ke Putussibau menemui keluarganya, kali-kali Zeda menginap di situ. Tapi hasilnya tetap nihil. Pakcik-nya yang bekerja di Korem Alambhanawanawai 121 juga telah berusaha, hasilnya tetap sama. Ke dukun pun telah ia lakukan. Zeda seperti ditelan bumi. Imbasnya rencana perkawinan Samsi dan Rima batal.

Keputusan Bapak tidak bisa berubah. Sampai kiamat pun tak mungkin berubah.

***

“Sudah kau pikirkan rencane Abang, Rima?”
“Sudah Bang.”
“Jadi ape keputusannye.”
“Saye ikut Abang saje.”

***

Di ruang tengah Bapak marah-marah membaca surat Samsi,
…………………
Maafkan Samsi, Pak. Samsi lelah mencari adik Zeda. Samsi juge punya kehidupan, begitu juga yang dilakukan Zeda dulu yang mencari burung keramat untuk kehidupannye. Maafkan Samsi Pak, Sembah sujud Ananda, Samsi.

“Nak jadi ape keluargaku. Zeda belum selesai, Samsi lagi punya hal!” suara Bapak memenuhi ruangan. Emak menangis tersedu-sedu.

Di ruangan seluruh keluarga telah berkumpul. Tapi tidak satu pun yang berani angkat bicara sebelum abang sulung mereka ini turun pitamnya. Ruangan saat itu hening. Tiba-tiba…

“Bang, sudahlah. Tak baek kite yang tue-tue ni ngikutkan kate hati. Ini salah kite semue Bang, yang terlalu memaksakan Samsi. Zeda memang kesayangan kite semue, anak Abang dan Kakak, tapi kite…” Salah seorang anggota keluarga mulai berani bicara. Tapi rupanya Bapak masih emosi
“Jaga mulut kau tu, Wan. Ape cari anak sendiri salah?!”
“Bang sudahlah….” potong Emak masih menangis tersedu-sedu. Bapak terdiam.

“Saya tahu Bang, Zeda menjadi kesayangan kite semua karena muke die same dengan buyut kite yang hilang. Sifat die, kesukaannye, semua mirip buyut. Hilangnye pun same-same mencari burung keramat tu. Tapi jangan biarkan hidup Samsi menderita pulak, dengan rase sayang kite yang berlebihan pade Zeda. Kite semue sudah berusahe. Tinggal berdoa Bang, berdoa untuk Zeda juge Samsi.”

“Woi, kau ni dah macam bapak kite dulu!” Naik pitam lagi Bapak mendengar dirinya diceramahi oleh adiknya.

“Bang…!” teriak Emak, “Benar kata Ridwan. Kite hanya tinggal berdoa untuk kedua anak kite.”
”Ye, Bang,” baru yang lain bersuara.
“Ini sudah takdirku,” kata Bapak melemah.

Bapak sepertinya mulai sadar. Di usianya yang sudah senja ia tak bisa lagi memaksakan kehendaknya sendiri. Ia hanya merasa gagal menjadi seorang ayah bila keluarganya tak utuh.

***

Sudah dua puluh tahun Samsi di Jakarta. Membanting tulang demi harga diri dan keluarga. Kini ia memetik buahnya. Ia telah berhasil menjadi seorang pengusaha, memiliki isteri setia, Rima dan seorang anak perempuan yang cantik, Zedani Risam Putri.
Tapi hari ini Samsi termenung di meja tugas. Tak bersemangat. Ia teringat dengan peristiwa dua puluh tahun yang lalu, saat Zeda pergi mencari burung Enggang Gading kuning emas yang dapat bicara dan tak pernah kembali.

“Ini gara-gara dongeng turun-temurun itu.”

Tiba-tiba telepon berdering membuyarkan lamunannya.

“Hallo….”
“Pa, Putri nih. Lupa ya…?” terdengar suara manja anaknya.
“Eh…apa ya?”
“Tuh kan Papa, ini kan ulang tahun Putri.”
“Ohhhhh..iya….maaf Put, Papa lupa. Selamat ulang tahun ya.”
“Ke tujuh belas loh Pa.”
“Hahahaa…….ternyata sudah besar gadis Papa ini. Mau minta hadiah apa nih?”
“Putri nggak minta hadiah macam-macam kok. Putri ingin Papa cerita lagi tentang Burung Keramat keluarga kita dan Paman Zeda, seperti setiap Putri berulang tahun.”
Samsi terdiam.

“Oke….. Bener nih, nggak ingin hadiah lain?”
“Bener. Putri Hanya ingin cerita Papa tentang Burung Keramat keluarga dan Paman Zeda,” suara Putri terdengar manja.

Permintaan anaknya memang tak pernah ia tolak. Ia manjakan anaknya agar tak merasakan susah seperti dirinya dulu. Samsi pun bercerita kembali tentang burung keramat yang dapat bicara dan adiknya yang hilang, Zeda. Walau sudah berulang-ulang ia lakukan tapi di ulang tahun ke-17 anaknya sekarang ia ingin bercerita dengan sempurna.

“Cerita ini cerita paling sempurna yang pernah Putri dengar. Dan kalau Putri punya anak, ceritakanlah kembali tentang burung keramat keluarga kita ini.”

“Ya, Pa,” jawab Putri pelan.

Samsi diam sejenak.

“Pa…kok diam”

“Eh, maaf Put. Baiklah Papa cerita….. Put, Burung Enggang Gading yang bisa ngomong itu warnanya kuning emas. Burung itu bisa berbahasa Melayu, Cina, Sunda, Madura dan mampu berbahasa suku dayak yang ada di seluruh Kalimantan. Selain terbang ia juga mampu menangkap ikan di sungai. Mampu terbang seperti burung rajawali. Dapat pindah dari satu tempat ke tempat yang lain dengan sekejap mata.

“Aneh ya Pa.”

“Ya, dan cerita ini hanya ada di keluarga kita. Tapi tak satu pun keluarga kita yang pernah melihat. Begitu juga pamanmu Zeda dan Zeni kakek buyut kita. Mereka hilang.” Di ujung telpon Putri mengangguk.

“Put, sebenarnya burung itu tak pernah ada. Tapi katanya, burung itu memberi kehidupan abadi kepada manusia yang melihatnya.”

“Bagaimana cerita itu bisa sampai di keluarga kita, Pa?”

“Entahlah, Papa nggak tahu Put. Mungkin adanya sejak keluarga kita terbentuk dulu. Jaman nenek moyang, Put.”

Di ujung telepon Putri tertawa.

“Tapi hilangnya paman Zeda membuat Papa banyak belajar untuk hidup, Papa pikir tidak hanya Papa, Kakek dan Nenek termasuk Putri. Semua keluarga kita…………”
Cerita itu mengalir pelan seperti aliran Sungai Kapuas tempat Samsi dulu berenang bersama Zeda. Samsi lega telah menceritakan semua kepada anaknya. Di seberang telepon, diam-diam air mata Putri menetes mendengar cerita itu.

“Putri sayang Papa,” telepon terputus.

Dalam hati Samsi berkata,”Zeda, kalau kau masih hidup, kau harus ajari anakku cara memancing yang handal, berenang dengan cepat dan ajari dia membuat pantun Melayu.”

***

Jauh di tengah hutan belantara Kalimantan Barat, di kaki Pegunungan Muller daerah Puttusibau. Dua orang laki-laki sedang duduk memancing di sungai Embaloh Hulu tak jauh dari Desa Benua Martinus. Laki-laki yang duduk di batang pohon memiliki janggut dan rambut yang panjang berwarna putih. Orang itu sudah sangat tua. Yang satu lagi tidak begitu tua, sekitar umur 40 tahun.

Wajah mereka tetap segar dan tawanya begitu lepas, seperti tak ada lagi beban hidup. Sementara di atas kepala mereka bertengger seekor burung besar yang warnanya kuning emas. Burung itu juga tertawa.

“Hahaa…….tak lame lagi keluarge kite bertambah,” kata burung itu dengan logat Melayu yang kental.***

2001

Eva, Perempuan Yang Menunggu

Dikirim sastra pada Februari 15, 2007 oleh frinodoc

Oleh Frino Bariarcianur Barus

Perempuan itu mengenakan kacamata hitam. Jika panas menyerang perempuan yang menunggu itu selalu bicara sendiri.

“Kenalkan namaku Eva. Anak debu yang menempel di setiap sudut-sudut mata. Aku suka mimpi tapi aku bukan iklan yang menjual mimpi. Karena mimpi seperti hari esok yang tidak pernah pasti. Tapi yang ada pada hari ini akan aku jaga utuh. Menjaganya seperti menjaga jiwa sendiri yang setiap saat bisa lepas.”

Aku hanya tersenyum, Eva mulai lagi.

“Di tengah hiruk pikuk kota ini aku sendiri. Demi tuntutan dramatisasi kehidupan, kalian harus tahu bahwa aku tidak pernah tahu siapa bapak dan emakku secara pasti. Pendek kata aku benar-benar sebatang kara. Seperti yang sering tertulis dalam novel-novel atau roman yang menguras air mata, bukan?“

Eva tersenyum sinis. Aku hanya tertawa kecil sebab sudah ratusan kali aku mendengarnya. Aku tak pernah merasa bosan sebab bila berada di dekat Eva aku seperti menikmati pop corn. Meledak-ledak, gurih dan hemmmm…

Tepat pukul 12 siang hari ini di bawah matahari yang bersinar sudah dua tahun aku mengikutinya. Tapi masih saja terasa catatanku belum lengkap.

“Mungkin aku salah satu kejanggalan alam karena sampai saat ini aku benar-benar tidak tahu kenapa aku masih bisa hidup. Walau demikian jangan menyangka aku tak bahagia. Bahagia kok. Lihat aku lebih segar dari boneka Barbie,” ujar Eva lagi.

Eva tersenyum. Kuakui senyum itu memang lebih manis ketimbang boneka Barbie yang berada di kotak kaca toko dan memang selalu paling manis dimataku. Lalu ia bebaskan matanya yang mulai terlihat lelah. Tiba-tiba matanya menabrak bunga yang tergeletak di tepi jalan.

“Ahh bunga ini,” matanya melihat langit, lalu,”Aku suka bunga tapi lebih suka baunya. Bukan pada warna atau bentuknya. Sebab mudah rusak atau pupus karena dimakan waktu. Kering lalu mati. Aku suka bau bunga, karena ada angin yang selalu membawanya terbang kemana pun. Aku bebas membauinya dan melekat di jiwa.”

Bunga itu diinjak!

“Hu..uh! Untung masih ada baunya! Barbie tidak bisa mencium bau bunga!” orang yang menginjak bunga itu menoleh tapi Eva memalingkan muka, “Inikah rasa hidup yang selalu hampa setelah tak berguna lagi?”

Aku kembali mencatat. Sekian lama aku menunggunya untuk mencari tahu kenapa ia terus berada di jalan ini, telah pula kutanyakan kepada orang-orang yang mengaku mengenal Eva, tapi tak satupun yang tahu pasti kenapa ia jadi begitu.

Ada yang bilang ia sedang menunggu kekasihnya yang pergi ke luar negeri sebagai tenaga kerja. Ada juga yang mengatakan Eva kena karma karena perbuatannya yang dulu. Ia aborsi. Ada yang bilang ia gagal jadi pramugari, ada pula yang bilang ia gagal sekolah filsafat.

Cerita tentang Eva tidak pernah berhenti tapi malah semakin berkembang luas. Untungnya telah kucatat dengan rapi. Selain aku, ada seorang laki-laki yang tertarik pada Eva. Seperti orang lain ia pun mengatakan Eva gila. Dari data yang kuperoleh di lapangan baik melalui wawancara dan pengamatan, laki-laki itu memang sudah banyak berkorban. Hanya saja Eva tetap seperti batu. Jadi kesimpulanku, laki-laki itu ada maunya. Tapi entah apa? Walau laki-laki itu cukup penting dalam ceritaku nanti, takkan kusebutkan nama lelaki itu. Dengan alasan ia lebih ganteng dariku.
“Temanku hanya dua,” kata Eva.

“Pertama angin, yang selalu membawa kabar rindu juga membawa bau-bau bunga. Dan kedua adalah kau laki-laki yang selalu mengatakan aku gila,” ia menunjuk ke segala arah.
Sial aku tak digubrisnya. Malah laki-laki itu tetap disebutnya.

“Dengan angin aku selalu bergembira. Karena peluh penantianku selalu disapunya. Dan jika matahari menyengat kepala maka temanku inilah yang membebaskan dari rasa panas itu. Matahari bodoh tak mengerti kalau aku kepanasan sekarang. Untung ada angin.”

Tiba-tiba angin sudah mengepung Eva dengan bau bunga-bunga yang segar. Angin tahu Eva suka bau bunga, maka ia rela jauh-jauh membawa bau itu ke hadapan Eva yang asyik dengan kesendiriannya.

“Wusss… Apa kabar Eva?” sapa angin.

“Baik. Terima kasih angin, kau memang sahabatku. Tahu seleraku.”
“Itu sudah tugasku Eva,” timpal angin merendah.
“Angin, andai saja kau tidak ada tentu aku akan selalu kepanasan ditimpa panas matahari. Aku benci sama matahari, panas. Lihat angin, matahari tetap memasang wajah jeleknya untukku. Ia masa bodo denganku, angin.”

Angin menyapu wajah Eva yang berhias butir-butir keringat, “Eva, matahari memang panas, tapi sebenarnya lebih panas hatimu.”

“Hatiku? Yang benar saja? Bagaimana mungkin hatiku lebih panas dari matahari, si raja kehidupan di bumi ini?” Eva sangsi dengan ucapan angin.

”Eva…Eva…..”

Angin memutus kalimatnya. Kemudian menghembuskan bau bunga lagi, Eva menjadi tenang kembali. Ia lupa lagi.

“Kenapa kau gantung kalimatmu Angin?” tanyaku diam-diam

“Hei Bung yang mencatat, aku tidak ingin mengulang kesalahan lagi. Sudah banyak kabar yang salah, dan aku selalu disalahkan. Ingat itu!”

“Angin, aku tidak bodoh. Bagaimanapun aku butuh informasi darimu. Jika informasi itu ngawur tentu akan melakukan verivikasi. Penting. Ini menyangkut kredibelitasku.”

Wusss ….. angin berhembus lagi. Sebelas dua belas dengan Eva.

Angin selalu begitu. Entah sampai kapan Eva bisa mendapatkan jawabannya. Kupikir tidak hanya Eva, akupun begitu. Dengan predikat sebagai pendongeng, jelas aku penasaran. Bagaimana nanti bila orang-orang bertanya kenapa hati Eva lebih panas dari matahari seperti yang diungkapkan angin dan aku tak bisa menjawabnya. Bukankah sial namanya!

Itu angin, sahabat Eva sejak kecil. Angin tahu kapan harus datang dan pergi atau harus bagaimana menghadapi perempuan sebatang kara ini kalau menghadapi persoalan. Itu kelebihan angin. Biasanya setelah bicara dengan angin ia akan bicara mengenai seorang laki-laki yang selalu mengatakannya gila.

Laki-laki itu memang tergila-gila sama Eva. Padahal sudah ribuan kali diingatkan jangan menunggu Eva, sia-sia. Tapi laki-laki itu tak peduli. Entah apa maunya?

Seperti seminggu yang lalu saat hujan deras mengguyur kota ini, laki-laki itu kembali mengeluarkan jurus perhatiannya. “Eva kau gila! Air bisa membunuhmu saat ini jika tetap saja kau langkahi rumahmu. Banjir, Eva…banjir! Kerumahku saja Va, hangat dan kita bisa bicara bebas. Aku punya banyak cerita untukmu.”

Eva tahu banjir melanda hebat di kota ini. Banjir yang mampu menghanyutkan setiap mimpi-mimpi panjang orang. “Tapi, sementara banjir sudah setinggi kemaluanmu, masih juga kau nafsui aku,” ujar Eva ketus.

Aku ingat waktu itu, saat tetangga mereka sibuk menyelamatkan harta benda, laki-laki itu masih sempat memperhatikan Eva. Lebih tepatnya bernafsu. Melihat tubuh Eva yang tercetak oleh air hujan, terang saja membuatnya pusing tujuh keliling. Tapi apa kata Eva waktu itu,”Aku senang. Aku merasa istimewa di matamu.”

Aku menggeleng sambil tersenyum mengingat kejadian itu. Tapi tiba-tiba seperti tahu apa yang kuhayalkan Eva bicara lantang.

“Tapi kau lupa, aku adalah perempuan yang menunggu. Lucu! Saat baju dan rambutku basah, di mulutmu kau seperti orang yang ingin melindungi tapi saat itu pula matamu seperti orang yang ingin menggagahi.”

Aku kaget. Cepat-cepat kucatat.

“Tidakkah perhatianmu sangat politis wahai laki-laki yang menyebutku gila? Aku muak melihatmu! Seperti air yang muak kepada manusia karena tak bersahabat lagi dengan alam.”

“Kau harus tahu, setiap lekuk tubuhku yang tercetak oleh hujan yang membanjiri kota ini sahih menjadi milik siapa saja. Bukan aku yang menginginkannya, tapi alam. Kau tahu, alam itu seperti memperkosaku saat hujan. Ada rasa sakit yang hebat tapi ada rasa aku benar-benar nikmat. Aku orgasme. Aku benar-benar suka hujan.”

Eva mengerjapkan matanya yang bundar. Sama persis saat ia merasakan dirinya diguyur hujan. Kali ini ia geleng-geleng kepala dan tersenyum. Eva terus bicara seperti air bah yang menghantam rumah-rumah, sawah, manusia juga cinta.

“Kau bilang tubuhku cantik. Padahal tak satupun dari organ-organ ini kubanggakan. Aku maklum karena kau laki-laki normal. Tapi mungkin saja kau kesal karena aku tidak menggunakan tubuhku yang cantik ini demi menaikkan harga keperempuananku.”

Dengan emosi meluap plus ditimpa sinar matahari wajah Eva tampak kemerah-merahan. Menurut catatanku, bila Eva sedang emosional ia akan kalap dan berteriak-teriak. Untuk mencegahnya hanya satu yang mampu meredakan, yaitu angin.

Wussss…wussss..wussss

Kembali angin hembuskan bau bunga. Tapi kali ini tak begitu berpengaruh. Eva malah semakin meninggi. Aku sedikit panik. Tapi ingin melihatnya terus berkobar seperti itu. Aku bergeser agak menjauh. Sementara angin masih berusaha menetralisir Eva.

Wusss…wusss…wussssss

“Wusss…Bung yang mencatat, bantu aku. Sepertinya kali ini aku menyerah,” bisik angin.
“Biarkan saja Angin, aku ingin melihatnya marah. Bagus buat ceritaku nanti,” bisikku pula.
“Sialan kamu Bung!”

Eva masih berapi-api, “Keperempuananku tidak dipatok dengan tubuh yang cantik. Aku bukannya tidak menginginkan seperti Cleopatra atau Juliet, hanya saja masih bertentangan dengan isi hatiku,” diam-diam aku melihat ada sesuatu yang lepas dari jiwanya. Wajahnya pias.
Aku mencatat lagi, memang kuakui banyak orang mengatakan persoalan tubuh tidak bisa dilepaskan dari perempuan. Dengan kecantikan, banyak orang bilang perempuan bisa meraih apa saja.

Kecantikan ini merupakan senjata perempuan yang cukup ampuh. Siapapun yang merasainya akan jatuh tersungkur. Apakah Eva menggunakannya? Kubalik lembaran catatanku, menurut catatanku ….

“Aku tak ingin menggunakannya! Aku bukan boneka Barbie!”
“Hei kau yang selalu mencatat!”

Aku menghentikan tulisan lalu mendongak ke wajah Eva. Dalam hati aku tertawa girang. Aku ada di matanya.

“Hal penting yang harus kau ingat dan catat bahwa aku tidak butuh kekuasaan atas kecantikan. Hanya membuat seperti boneka Barbie yang menyihir setiap anak-anak perempuan untuk membeli. Lalu berusaha berdandan seperti Barbie. Palsu!”

Lalu kutulis, apakah Eva tidak tahu banyak laki-laki menginginkannya? Apakah ia berpura-pura agar tak banyak saingan atau diam-diam menikmatinya?

“Maaf, sekali lagi kukatakan, aku perempuan yang menunggu.”
“Tapi sampai kapan kau akan menunggu Va?” aku mulai berani bertanya.
“Sampai Barbie dan iklan-iklan itu tak lagi menganggu.”
“Kau semakin tidak jelas Eva?”

Wajah Eva menampakkan ketegangan,”Aku tidak pernah letih atau berputus asa karena menunggu. Semangatku tetap membara, bercampur aduk dengan perasaan, takut atau berani, pasti atau ragu, tunai atau ingkar. Semuanya mengalir dalam darah yang kuharap keluarnya segar. Diciumi dengan penuh cinta. Siapa atau apapun itu aku tidak peduli lagi.”

“Bertahun-tahun di sini. Dipandangi setiap orang-orang yang lalu lalang dengan tujuannya masing-masing. Ada yang menggoda, ada yang cuek, ada yang mengajak tidur dan sebagainya. Dan kau, ha..ha..ha..ha, seorang lelaki yang tak pernah henti-hentinya mengatakan aku gila. Kau sebenarnya menarik.”

Sekali lagi gila. Aku tak pernah disebutnya. “Laki-laki itu tidak ada disini Eva, hanya aku, Bung yang selalu mencatat. Menurutmu aku bagaimana?”

“Aku tak punya kata untukmu, selain e… e… pendongeng yang mencatat dengan buruk!”

Wusss…wusss dan was wes wos

“Sial! Kau jangan mentertawaiku, angin.”

Tapi angin tak peduli. Angin tertawa sepuas-puasnya. Tak lama kemudian pergi. Harus kuakai, Eva tidak pernah menganggapku benar-benar ada. Benar-benar sial!

“Disini, seperti tahun-tahun yang lalu, masih dengan langit yang dulu, wajahku sedikit demi sedikit berubah. Entahlah kini seperti apa. Tapi menurut perasaan ini, perubahan menjadi apapun tidak penting lagi. Menjadi baik atau malah bertambah buruk. Tidak penting lagi. Siapa bilang pipiku tak bisa merona?”

Sementara itu langit mulai gelap. Matahari mulai bergeser ke barat, sebentar lagi terbenam. Ah sayang, di kota besar ini tidak bisa menyaksikan matahari ditelan lautan. Tetapi aku masih bisa menikmati keindahan ini, terutama Eva.

“Aku lahir di waktu sore, saat matahari tak lagi menyengat kepala orang-orang yang terus bekerja. Waktu yang indah untuk menyamankan semua pesoalan. Tapi waktu sore jualah yang membuat aku harus menunggu,” lalu Eva melepas kaca mata hitamnya.
“Waktu sore benar-benar istimewa bagiku,” nada bicaranya pelan sekali.

Bandung, 12 Februari 2002