Oleh Frino Bariarcianur Barus
Perempuan itu mengenakan kacamata hitam. Jika panas menyerang perempuan yang menunggu itu selalu bicara sendiri.
“Kenalkan namaku Eva. Anak debu yang menempel di setiap sudut-sudut mata. Aku suka mimpi tapi aku bukan iklan yang menjual mimpi. Karena mimpi seperti hari esok yang tidak pernah pasti. Tapi yang ada pada hari ini akan aku jaga utuh. Menjaganya seperti menjaga jiwa sendiri yang setiap saat bisa lepas.”
Aku hanya tersenyum, Eva mulai lagi.
“Di tengah hiruk pikuk kota ini aku sendiri. Demi tuntutan dramatisasi kehidupan, kalian harus tahu bahwa aku tidak pernah tahu siapa bapak dan emakku secara pasti. Pendek kata aku benar-benar sebatang kara. Seperti yang sering tertulis dalam novel-novel atau roman yang menguras air mata, bukan?“
Eva tersenyum sinis. Aku hanya tertawa kecil sebab sudah ratusan kali aku mendengarnya. Aku tak pernah merasa bosan sebab bila berada di dekat Eva aku seperti menikmati pop corn. Meledak-ledak, gurih dan hemmmm…
Tepat pukul 12 siang hari ini di bawah matahari yang bersinar sudah dua tahun aku mengikutinya. Tapi masih saja terasa catatanku belum lengkap.
“Mungkin aku salah satu kejanggalan alam karena sampai saat ini aku benar-benar tidak tahu kenapa aku masih bisa hidup. Walau demikian jangan menyangka aku tak bahagia. Bahagia kok. Lihat aku lebih segar dari boneka Barbie,” ujar Eva lagi.
Eva tersenyum. Kuakui senyum itu memang lebih manis ketimbang boneka Barbie yang berada di kotak kaca toko dan memang selalu paling manis dimataku. Lalu ia bebaskan matanya yang mulai terlihat lelah. Tiba-tiba matanya menabrak bunga yang tergeletak di tepi jalan.
“Ahh bunga ini,” matanya melihat langit, lalu,”Aku suka bunga tapi lebih suka baunya. Bukan pada warna atau bentuknya. Sebab mudah rusak atau pupus karena dimakan waktu. Kering lalu mati. Aku suka bau bunga, karena ada angin yang selalu membawanya terbang kemana pun. Aku bebas membauinya dan melekat di jiwa.”
Bunga itu diinjak!
“Hu..uh! Untung masih ada baunya! Barbie tidak bisa mencium bau bunga!” orang yang menginjak bunga itu menoleh tapi Eva memalingkan muka, “Inikah rasa hidup yang selalu hampa setelah tak berguna lagi?”
Aku kembali mencatat. Sekian lama aku menunggunya untuk mencari tahu kenapa ia terus berada di jalan ini, telah pula kutanyakan kepada orang-orang yang mengaku mengenal Eva, tapi tak satupun yang tahu pasti kenapa ia jadi begitu.
Ada yang bilang ia sedang menunggu kekasihnya yang pergi ke luar negeri sebagai tenaga kerja. Ada juga yang mengatakan Eva kena karma karena perbuatannya yang dulu. Ia aborsi. Ada yang bilang ia gagal jadi pramugari, ada pula yang bilang ia gagal sekolah filsafat.
Cerita tentang Eva tidak pernah berhenti tapi malah semakin berkembang luas. Untungnya telah kucatat dengan rapi. Selain aku, ada seorang laki-laki yang tertarik pada Eva. Seperti orang lain ia pun mengatakan Eva gila. Dari data yang kuperoleh di lapangan baik melalui wawancara dan pengamatan, laki-laki itu memang sudah banyak berkorban. Hanya saja Eva tetap seperti batu. Jadi kesimpulanku, laki-laki itu ada maunya. Tapi entah apa? Walau laki-laki itu cukup penting dalam ceritaku nanti, takkan kusebutkan nama lelaki itu. Dengan alasan ia lebih ganteng dariku.
“Temanku hanya dua,” kata Eva.
“Pertama angin, yang selalu membawa kabar rindu juga membawa bau-bau bunga. Dan kedua adalah kau laki-laki yang selalu mengatakan aku gila,” ia menunjuk ke segala arah.
Sial aku tak digubrisnya. Malah laki-laki itu tetap disebutnya.
“Dengan angin aku selalu bergembira. Karena peluh penantianku selalu disapunya. Dan jika matahari menyengat kepala maka temanku inilah yang membebaskan dari rasa panas itu. Matahari bodoh tak mengerti kalau aku kepanasan sekarang. Untung ada angin.”
Tiba-tiba angin sudah mengepung Eva dengan bau bunga-bunga yang segar. Angin tahu Eva suka bau bunga, maka ia rela jauh-jauh membawa bau itu ke hadapan Eva yang asyik dengan kesendiriannya.
“Wusss… Apa kabar Eva?” sapa angin.
“Baik. Terima kasih angin, kau memang sahabatku. Tahu seleraku.”
“Itu sudah tugasku Eva,” timpal angin merendah.
“Angin, andai saja kau tidak ada tentu aku akan selalu kepanasan ditimpa panas matahari. Aku benci sama matahari, panas. Lihat angin, matahari tetap memasang wajah jeleknya untukku. Ia masa bodo denganku, angin.”
Angin menyapu wajah Eva yang berhias butir-butir keringat, “Eva, matahari memang panas, tapi sebenarnya lebih panas hatimu.”
“Hatiku? Yang benar saja? Bagaimana mungkin hatiku lebih panas dari matahari, si raja kehidupan di bumi ini?” Eva sangsi dengan ucapan angin.
”Eva…Eva…..”
Angin memutus kalimatnya. Kemudian menghembuskan bau bunga lagi, Eva menjadi tenang kembali. Ia lupa lagi.
“Kenapa kau gantung kalimatmu Angin?” tanyaku diam-diam
“Hei Bung yang mencatat, aku tidak ingin mengulang kesalahan lagi. Sudah banyak kabar yang salah, dan aku selalu disalahkan. Ingat itu!”
“Angin, aku tidak bodoh. Bagaimanapun aku butuh informasi darimu. Jika informasi itu ngawur tentu akan melakukan verivikasi. Penting. Ini menyangkut kredibelitasku.”
Wusss ….. angin berhembus lagi. Sebelas dua belas dengan Eva.
Angin selalu begitu. Entah sampai kapan Eva bisa mendapatkan jawabannya. Kupikir tidak hanya Eva, akupun begitu. Dengan predikat sebagai pendongeng, jelas aku penasaran. Bagaimana nanti bila orang-orang bertanya kenapa hati Eva lebih panas dari matahari seperti yang diungkapkan angin dan aku tak bisa menjawabnya. Bukankah sial namanya!
Itu angin, sahabat Eva sejak kecil. Angin tahu kapan harus datang dan pergi atau harus bagaimana menghadapi perempuan sebatang kara ini kalau menghadapi persoalan. Itu kelebihan angin. Biasanya setelah bicara dengan angin ia akan bicara mengenai seorang laki-laki yang selalu mengatakannya gila.
Laki-laki itu memang tergila-gila sama Eva. Padahal sudah ribuan kali diingatkan jangan menunggu Eva, sia-sia. Tapi laki-laki itu tak peduli. Entah apa maunya?
Seperti seminggu yang lalu saat hujan deras mengguyur kota ini, laki-laki itu kembali mengeluarkan jurus perhatiannya. “Eva kau gila! Air bisa membunuhmu saat ini jika tetap saja kau langkahi rumahmu. Banjir, Eva…banjir! Kerumahku saja Va, hangat dan kita bisa bicara bebas. Aku punya banyak cerita untukmu.”
Eva tahu banjir melanda hebat di kota ini. Banjir yang mampu menghanyutkan setiap mimpi-mimpi panjang orang. “Tapi, sementara banjir sudah setinggi kemaluanmu, masih juga kau nafsui aku,” ujar Eva ketus.
Aku ingat waktu itu, saat tetangga mereka sibuk menyelamatkan harta benda, laki-laki itu masih sempat memperhatikan Eva. Lebih tepatnya bernafsu. Melihat tubuh Eva yang tercetak oleh air hujan, terang saja membuatnya pusing tujuh keliling. Tapi apa kata Eva waktu itu,”Aku senang. Aku merasa istimewa di matamu.”
Aku menggeleng sambil tersenyum mengingat kejadian itu. Tapi tiba-tiba seperti tahu apa yang kuhayalkan Eva bicara lantang.
“Tapi kau lupa, aku adalah perempuan yang menunggu. Lucu! Saat baju dan rambutku basah, di mulutmu kau seperti orang yang ingin melindungi tapi saat itu pula matamu seperti orang yang ingin menggagahi.”
Aku kaget. Cepat-cepat kucatat.
“Tidakkah perhatianmu sangat politis wahai laki-laki yang menyebutku gila? Aku muak melihatmu! Seperti air yang muak kepada manusia karena tak bersahabat lagi dengan alam.”
“Kau harus tahu, setiap lekuk tubuhku yang tercetak oleh hujan yang membanjiri kota ini sahih menjadi milik siapa saja. Bukan aku yang menginginkannya, tapi alam. Kau tahu, alam itu seperti memperkosaku saat hujan. Ada rasa sakit yang hebat tapi ada rasa aku benar-benar nikmat. Aku orgasme. Aku benar-benar suka hujan.”
Eva mengerjapkan matanya yang bundar. Sama persis saat ia merasakan dirinya diguyur hujan. Kali ini ia geleng-geleng kepala dan tersenyum. Eva terus bicara seperti air bah yang menghantam rumah-rumah, sawah, manusia juga cinta.
“Kau bilang tubuhku cantik. Padahal tak satupun dari organ-organ ini kubanggakan. Aku maklum karena kau laki-laki normal. Tapi mungkin saja kau kesal karena aku tidak menggunakan tubuhku yang cantik ini demi menaikkan harga keperempuananku.”
Dengan emosi meluap plus ditimpa sinar matahari wajah Eva tampak kemerah-merahan. Menurut catatanku, bila Eva sedang emosional ia akan kalap dan berteriak-teriak. Untuk mencegahnya hanya satu yang mampu meredakan, yaitu angin.
Wussss…wussss..wussss
Kembali angin hembuskan bau bunga. Tapi kali ini tak begitu berpengaruh. Eva malah semakin meninggi. Aku sedikit panik. Tapi ingin melihatnya terus berkobar seperti itu. Aku bergeser agak menjauh. Sementara angin masih berusaha menetralisir Eva.
Wusss…wusss…wussssss
“Wusss…Bung yang mencatat, bantu aku. Sepertinya kali ini aku menyerah,” bisik angin.
“Biarkan saja Angin, aku ingin melihatnya marah. Bagus buat ceritaku nanti,” bisikku pula.
“Sialan kamu Bung!”
Eva masih berapi-api, “Keperempuananku tidak dipatok dengan tubuh yang cantik. Aku bukannya tidak menginginkan seperti Cleopatra atau Juliet, hanya saja masih bertentangan dengan isi hatiku,” diam-diam aku melihat ada sesuatu yang lepas dari jiwanya. Wajahnya pias.
Aku mencatat lagi, memang kuakui banyak orang mengatakan persoalan tubuh tidak bisa dilepaskan dari perempuan. Dengan kecantikan, banyak orang bilang perempuan bisa meraih apa saja.
Kecantikan ini merupakan senjata perempuan yang cukup ampuh. Siapapun yang merasainya akan jatuh tersungkur. Apakah Eva menggunakannya? Kubalik lembaran catatanku, menurut catatanku ….
“Aku tak ingin menggunakannya! Aku bukan boneka Barbie!”
“Hei kau yang selalu mencatat!”
Aku menghentikan tulisan lalu mendongak ke wajah Eva. Dalam hati aku tertawa girang. Aku ada di matanya.
“Hal penting yang harus kau ingat dan catat bahwa aku tidak butuh kekuasaan atas kecantikan. Hanya membuat seperti boneka Barbie yang menyihir setiap anak-anak perempuan untuk membeli. Lalu berusaha berdandan seperti Barbie. Palsu!”
Lalu kutulis, apakah Eva tidak tahu banyak laki-laki menginginkannya? Apakah ia berpura-pura agar tak banyak saingan atau diam-diam menikmatinya?
“Maaf, sekali lagi kukatakan, aku perempuan yang menunggu.”
“Tapi sampai kapan kau akan menunggu Va?” aku mulai berani bertanya.
“Sampai Barbie dan iklan-iklan itu tak lagi menganggu.”
“Kau semakin tidak jelas Eva?”
Wajah Eva menampakkan ketegangan,”Aku tidak pernah letih atau berputus asa karena menunggu. Semangatku tetap membara, bercampur aduk dengan perasaan, takut atau berani, pasti atau ragu, tunai atau ingkar. Semuanya mengalir dalam darah yang kuharap keluarnya segar. Diciumi dengan penuh cinta. Siapa atau apapun itu aku tidak peduli lagi.”
“Bertahun-tahun di sini. Dipandangi setiap orang-orang yang lalu lalang dengan tujuannya masing-masing. Ada yang menggoda, ada yang cuek, ada yang mengajak tidur dan sebagainya. Dan kau, ha..ha..ha..ha, seorang lelaki yang tak pernah henti-hentinya mengatakan aku gila. Kau sebenarnya menarik.”
Sekali lagi gila. Aku tak pernah disebutnya. “Laki-laki itu tidak ada disini Eva, hanya aku, Bung yang selalu mencatat. Menurutmu aku bagaimana?”
“Aku tak punya kata untukmu, selain e… e… pendongeng yang mencatat dengan buruk!”
Wusss…wusss dan was wes wos
“Sial! Kau jangan mentertawaiku, angin.”
Tapi angin tak peduli. Angin tertawa sepuas-puasnya. Tak lama kemudian pergi. Harus kuakai, Eva tidak pernah menganggapku benar-benar ada. Benar-benar sial!
“Disini, seperti tahun-tahun yang lalu, masih dengan langit yang dulu, wajahku sedikit demi sedikit berubah. Entahlah kini seperti apa. Tapi menurut perasaan ini, perubahan menjadi apapun tidak penting lagi. Menjadi baik atau malah bertambah buruk. Tidak penting lagi. Siapa bilang pipiku tak bisa merona?”
Sementara itu langit mulai gelap. Matahari mulai bergeser ke barat, sebentar lagi terbenam. Ah sayang, di kota besar ini tidak bisa menyaksikan matahari ditelan lautan. Tetapi aku masih bisa menikmati keindahan ini, terutama Eva.
“Aku lahir di waktu sore, saat matahari tak lagi menyengat kepala orang-orang yang terus bekerja. Waktu yang indah untuk menyamankan semua pesoalan. Tapi waktu sore jualah yang membuat aku harus menunggu,” lalu Eva melepas kaca mata hitamnya.
“Waktu sore benar-benar istimewa bagiku,” nada bicaranya pelan sekali.
Bandung, 12 Februari 2002